Jakarta, 28 Agustus 2026 — Suasana penuh khidmat dan kebersamaan terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Hamid pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan berkolaborasi dengan Madrasah Aliyah (MA) Al Hamid ini diikuti oleh seluruh siswa MTs dan MA Al Hamid serta jajaran dewan guru. Kegiatan berlangsung di dua lokasi, yaitu Mushola Pondok Pesantren Al Hamid Putri dan Aula Masjid Pondok Pesantren Al Hamid Putra.

Peringatan Maulid Nabi tahun ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi momentum bagi para santri untuk kembali memahami makna mencintai Rasulullah SAW melalui akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

img 8592

Maulid Bukan Sekadar Seremonial

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah MTs Al Hamid, Ibu Nurhasanah, M.Pd., mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi jangan berhenti pada kegiatan seremonial.

Menurut beliau, mencintai Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan berusaha meneladani akhlak beliau.

Kejujuran, kasih sayang, semangat menuntut ilmu, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta menghormati orang tua dan guru merupakan bagian dari akhlak yang perlu terus ditanamkan dalam diri seorang santri.

“Maulid Nabi” bukan hanya tentang bagaimana kita mengenang Rasulullah SAW, tetapi bagaimana nilai-nilai keteladanan beliau benar-benar hadir dalam kehidupan para santri.

img 8573
img 8600

Karena itu, para siswa diajak untuk menjadikan momentum ini sebagai titik awal untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan semangat dalam menuntut ilmu.

Pesan Penting: Jangan Kecil Hati Saat Menghadapi Kesulitan

Pesan yang tak kalah kuat disampaikan oleh KH. Dindin Abdul Hamid dalam ceramahnya. Beliau mengajak para santri untuk tidak berkecil hati ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan maupun selama menjalani proses pendidikan di pesantren.

Menurut beliau, keberhasilan tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang harus dijalani. Mereka yang mampu bertahan, terus belajar, dan tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan memiliki kesempatan untuk meraih hasil yang luar biasa.

Salah satu kisah yang disampaikan adalah perjalanan kehidupan Rasulullah SAW yang sejak lahir telah berada dalam keadaan yatim. Namun, kondisi tersebut bukan menjadi penghalang bagi Rasulullah SAW untuk tumbuh menjadi sosok yang luar biasa.

img 8567
1

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa keadaan hari ini bukanlah penentu masa depan.

Kesulitan bukan akhir dari perjalanan. Bisa jadi, justru dari situlah sebuah keberhasilan sedang dimulai.

Bangun Optimisme, Gantungkan Harapan kepada Allah

Dalam ceramahnya, KH. Dindin Abdul Hamid juga mengingatkan pentingnya membangun optimisme ketika menghadapi kesulitan.

Para santri didorong untuk tetap memiliki cita-cita tinggi dan tidak menyerah hanya karena keadaan yang sedang mereka hadapi.

Kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menghadapi berbagai ujian menjadi salah satu gambaran bahwa kesulitan membutuhkan kesabaran, strategi, keyakinan, dan optimisme.

Pesan yang disampaikan sangat relevan bagi para pelajar:

Jangan ukur masa depan dari keadaanmu hari ini.

img 8584

Seorang santri mungkin sedang berjuang dengan keterbatasan, jauh dari keluarga, menghadapi kesulitan belajar, atau merasa belum mampu mencapai cita-citanya.

Namun, selama ia mau terus belajar, berusaha, berdoa, dan menggantungkan harapannya kepada Allah SWT, perjalanan tersebut tetap memiliki peluang untuk berujung pada keberhasilan.

img 8554

Doa Orang Tua dan Amanah Menuntut Ilmu

Hal lain yang mendapat perhatian dalam ceramah adalah besarnya peran seorang ibu dan orang tua dalam perjalanan kehidupan seorang anak.

Para santri diingatkan untuk menghormati orang tua serta tidak melupakan doa dan pengorbanan mereka.

Pesan tersebut sejalan dengan amanat Kepala Madrasah bahwa belajar di lingkungan Pesantren Al Hamid merupakan amanah dari orang tua yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, menjadi santri bukan hanya tentang mendapatkan ilmu, tetapi juga tentang bagaimana membalas kepercayaan orang tua dengan akhlak yang baik, kesungguhan belajar, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Rasulullah SAW.

Dari Maulid Menuju Perubahan

Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MTs Al Hamid membawa satu pesan besar:

Mencintai Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan tindakan.

Membaca maulid adalah kebaikan. Mendengarkan ceramah adalah kebaikan. Namun, keteladanan Rasulullah SAW harus terus dibawa setelah acara selesai.

Para santri diharapkan mampu membawa semangat tersebut ke ruang kelas, asrama, lingkungan pesantren, keluarga, dan masyarakat.

Kakak kelas diharapkan menyayangi adik kelas. Adik kelas menghormati kakak kelas. Guru terus bersemangat memberikan ilmu, sementara para santri terus bersemangat dalam menuntut ilmu.

Sebab, Maulid Nabi yang paling bermakna bukanlah ketika acara selesai, tetapi ketika akhlak Rasulullah SAW mulai terlihat dalam kehidupan kita.

img 8605

Semoga momentum Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2026 menjadi langkah bagi seluruh keluarga besar MTs dan MA Al Hamid untuk semakin mencintai Rasulullah SAW, memperbaiki akhlak, memperkuat semangat belajar, dan menjadi generasi yang membawa manfaat bagi agama, keluarga, bangsa, dan masyarakat.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.

Semoga cinta kepada Rasulullah SAW tumbuh dalam hati dan tercermin dalam setiap akhlak dan perbuatan.